SIKAP YANG SALAH

Sabtu, 16 Juni 2012



SIKAP YANG SALAH



Menjelang istirahat suatu kursus pelatihan, sang pengajar  mengajak para peserta untuk melakukan suatu permainan. “Siapakah orang yang paling penting dalam hidup Anda?” tanyanya. Pengajar meminta bantuan seorang peserta maju ke depan kelas.

“Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini.”
Peserta perempuan itu pun menuliskan 20 nama dipapan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih, dan lainnya. Kemudian pengajar itu menyilahkan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Lalu mahasiswi itu mencoret satu nama, tetangganya. Selanjutnya, pengajar itu menyilahkan lagi untuk mencoret satu nama yang tersisa dan mahasiswi itu pun melakukannya. Sekarang, mencoret nama teman sekantornya. Begitu seterusnya sampai akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suaminya, serta anaknya. Di dalam kelas, tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua peserta pelatihan memusatkan perhatianya pada si pengajar. Menebak–nebak apa yang selanjutnya akan dikatakannya. Di keheningan, sang pengajar berkata, “Coret satu lagi.”

Dengan perlahan dan agak ragu, mahasiswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama. Nama orang tuanya. “Silahkan coret satu lagi.”

Tampak mahasiswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya setinggi-tingginya dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya. Nama anaknya. Seketika itupun pecah isak tangis di dalam kelas. Setelah suasana sedikit tenang pengajar itu lalu bertanya, “Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda?, Orang tua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak, sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”.

Semua mata tertuju kepada mahasiswi yang masih berada di dapan kelas itu. Menunggu apa yang hendak dikatakannya.

“Waktu akan berlalu. Orang tua akan pergi meniggalkan saya. Anak pun demikian. Jika telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”


***


Kehidupan itu bagaikan bawang Bombay. Ketika dikupas selapis demi selapis, akan habis. Dan ada kalannya kita dibuat menangis.





Commet and Suggestion please :
Facebook   : Satya Excel
Twitter        : @Lencanasatya

Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Your comment here

Radio Rodja 756AM

Last Detik News

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Satya Excel Site - ساتيا ممتاز - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger