MAKALAH PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK (CHRONIC KIDNEY DISEASE, CKD)

Senin, 08 Oktober 2012


MAKALAH TENTANG PENYAKIT CKD
(CHRONIC KIDNEY DISEASE)

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
KEPERAWATAN DEWASA II

Dosen Pengampu : Ns. Erick Endra Cita S. Kep







Disusun Oleh :
Satya Putra Lencana
M11.01.0015


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh dan berfungsi untuk membuang sampah metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urin, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh.  Tetapi pada kondisi tertentu karena adanya gangguan pada ginjal, fungsi tersebut akan berubah.  Gagal ginjal kronik biasanya terjadi secara perlahan-lahan sehingga biasanya diketahui setelah jatuh dalam kondisi parah.  Gagal ginjal kronik tidak dapat disembuhkan.  Gagal ginjal kronik dapat terjadi pada semua umur dan semua tingkat sosial ekonomi.  Pada penderita gagal ginjal kronik, kemungkinan terjadinya kematian sebesar 85 %.
Melihat kondisi seperti tersebut di atas,  maka perawat harus dapat mendeteksi secara dini tanda dan gejala klien dengan gagal ginjal kronik.  Sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan secara komprehensip pada klien dengan gagal ginjal kronik.

B.    RUMUSAN MASALAH
Bagaimana gambaran perawatan pada penyakit gagal ginjal kronik.

C.   TUJUAN

  1. Tujuan umum
Dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal ginjal kronik.
  1. Tujuan Khusus
a.       Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien gagal ginjal kronik
b.      Mampu membuat analisa data pada pasien gagal ginjal kronik
c.       Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
d.      Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
e.       Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik.
f.       Mampu membuat evaluasi pada pasien gagal ginjal kronik

D.   MANFAAT

1.      Secara umum
a.       Menambah wawasan, pengetahuan penulis dan pembaca di bidang kesehatan khususnya gagal ginjal kronik.
b.      Memberikan informasi mengenai masalah keperawatan pada pasien dengangagal ginjal kronik dan penatalaksanaan masalah keperawatan.
c.       Meningkatkan ketrampilan penulis dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien Gagal ginjal kronik.
2.      Secara khusus
a.       Bagi Penulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit gagal ginjal kronik agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
b.      Bagi Pembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang gagal ginjal kronik lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit gagal ginjal kronik.
c.       Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan gagal ginjal kronik sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik
d.      Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang gagal ginjal kronik serta dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.

BAB  II
LANDASAN TEORI

A.   DEFINISI

Gagal Ginjal Kronik (GGK) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) ( KMB, Vol 2 hal 1448).
Penyakit gagal ginjal kronis bersifat progresif dan irreversible dimana terjadi uremia karena kegagalan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta elektrolit ( SmeltzerC, Suzanne, 2002 hal 1448)
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)

B.    ETIOLOGI

Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain :
1.   Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis)
2.   Penyakit peradangan (glomerulonefritis)
3.   Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis)
4.   Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosis sitemik)
5.   Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal)
6.   Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme)7.Nefropati toksik
8.   Nefropati obstruktif (batu saluran kemih)
(Price & Wilson, 1994)

Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok :
1.     Penyakit parenkim ginjal
a.       Penyakit ginjal primer        : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik, Tbc ginjal
b.      Penyakit ginjal sekunder   : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, DM
2.   Penyakit ginjal obstruktif         : Pembesaran prostat, batu saluran kemih, refluks ureter. Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk, obstruksi saluran kemih, destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama, scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginjal.

C.   MANIFESTASI KLINIS

  1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369) :
a.       Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b.      Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktu ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.

  1. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain :
Hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).


  1. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a.       Kardiovaskuler : Hipertensi, gagal jantung kongestif, udema pulmoner, perikarditis pitting edema (kaki, tangan, sacrum), edema periorbital friction rub pericardial, pembesaran vena leher
b.      Integumen : Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar
c.       Pulmoner : Krekels, sputum kental dan liat, nafas dangkal, pernafasan kussmaul
d.      Gastrointestinal : Nafas berbau ammonia, ulserasi dan perdarahan mulut, anoreksia, mual, muntah, konstipasi dan diare, perdarahan saluran cerna
e.       Neurologi : Kelemahan dan keletihan, konfusi/ perubahan tingkat kesadaran, disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, perubahan perilaku
f.       Muskuloskeletal : Kram otot, kekuatan otot hilang,kelemahan pada tungkai Fraktur tulang, Foot drop
g.      Reproduktif : Amenore, Atrofi testekuler

D.   PATOFISIOLOGI

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).

Klasifikasi gagal ginjal kronik dibagi menjadi 5 stadium :
1.   Stadium 1, bila kadar gula tidak terkontrol, maka glukosa akan dikeluarkan lewat ginjal secara berlebihan. Keadaan ini membuat ginjal hipertrofi dan hiperfiltrasi. Pasien akan mengalami poliuria. Perubahan ini diyakini dapat menyebabkan glomerulusklerosis fokal, terdiri dari penebalan difus matriks mesangeal dengan bahan eosinofilik disertai penebalan membran basalin kapiler.
  1. Stadium 2, insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
3.   Stadium 3, glomerulus dan tubulus sudah mengalami beberapa kerusakan. Tanda khas stadium ini adalah mikroalbuminuria yang menetap, dan terjadi hipertensi.
4.   Stadium 4, ditandai dengan proteinuria dan penurunan GFR. Retinopati dan hipertensi hampir selalu ditemui.
5.   Stadium 5, adalah stadium akhir, ditandai dengan peningkatan BUN dan kreatinin plasma disebabkan oleh penurunan GFR yang cepat.


E.    PATHWAY

ETIOLOGI
¯
Jumlah nefron fungsional å
¯
         Nefron yg terserang hancur                                                                          Neferon yg masih utuh
                               ¯                                                                  ¯                                                                                             ¯
90% nefron hancur
¯   
75% nefron hancur
¯  
Adaptasi
¯  
Tdk dpt mengkompensasi
(ketidakseimbangan cairan elektrolit)                    
¯  
         GFR å                              
(BUN & kreatinin )   
¯  
Nefron hipertropi
¯

GFR å 10% dari normal
(BUN & kreatinin )
¯  
Adaptasi
¯  
kecepatan filtrasi, beban solut, reabsorpsi
¯  
Urine isoosmotis
¯  
Kecepatan filtrasi & beban
solut
¯  
Keseimbangan cairan elektrolit dipertahankan
¯  
Kegagalan proses filtrasi
¯  
Ketidakseimbangan dlm glomerulus & tubulus
¯  
Fungsi ginjal rendah
¯
Oliguri
¯  
Poliuri, nokturi, azotemia
¯  
å cadangan ginjal
  
Uremia
¯
Insufisiensi ginjal
¯  

Penumpukan kristal
urea di kulit
¯  
Gagal ginjal
¯  
Angiotensin
¯  
Pruritus
¯  
Eritropoetin di ginjal å
¯  
Retensi Na+
¯  
 
Gangguan integritas kulit

SDM å
¯  
 
Kelebihan volume cairan

Pucat, fatigue, malaise
anemia
¯  


Gangguan nutrisi kurang
dari kebutuhan

Intoleransi aktivitas


F.    PEMERIKSAAN PENUNJANG

Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain :
  1. Pemeriksaan Laboratorium
a.       Laboratorium darah : BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), Hematologi (Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan protein dan immunoglobulin)
b.      Pemeriksaan UrinWarna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen, SDM, keton, SDP, TKK/CCT2.
2.    Pemeriksaan EKG
Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
3.    Pemeriksaan USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostate
4.    Pemeriksaan Radiologi
Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen

G.   PENCEGAHAN

Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis.
Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan). (Barbara C Long, 2001).


H.   PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :
1.      Konservatif
a.       Dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan urin
b.      Observasi balance cairan
c.       Observasi adanya odema
d.      Batasi cairan yang masuk
2.      Dialysis
a.       peritoneal diálisis biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency.
b.      Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis)
c.       Hemodialisis
d.      Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :
e.       AV fistule : menggabungkan vena dan arteri
f.       Double lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke jantung)
3.      Operasi
a.       Pengambilan batu
b.      transplantasi ginjal

I.      ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian

a.       Aktifitas dan Istirahat
     Kelelahan, kelemahan, malaise, gangguan tidur, kelemahan otot dan tonus, penurunan ROM
b.      Sirkulasi
      Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada, peningkatan JVP, tachycardia, hipotensi orthostatic, friction rub
c.       Integritas Ego
      Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada kekuatan, menolak, cemas, takut, marah, irritable
d.      Eliminasi
     Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuri, perubahan warna urin, urin pekat warna merah/coklat, berawan, diare, konstipasi, abdomen kembung
e.       Makanan/Cairan
     Peningkatan BB karena edema, penurunan BB karena malnutrisi, anoreksia, mual, muntah, rasa logam pada mulut, asites, penurunan otot, penurunan lemak subkutan
f.       Neurosensori
     Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot, kejang, kebas, kesemutan, gangguan status mental, penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, koma
g.      Nyeri/Kenyamanan
     Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki, distraksi, gelisah
h.      Pernafasan
     Pernafasan Kussmaul (cepat dan dangkal), paroksismal nokturnal dyspnea (+), batuk produkrif dengan frotty sputum bila terjadi edema pulmonal
i.        Keamanan
     Kulit gatal, infeksi berulang, pruritus, demam (sepsis dan dehidrasi), petekie, ekimosis, fraktur tulang, deposit fosfat kalsieum pada kulit, ROM terbatas
j.        Seksualitas
     Penurunan libido, amenore, infertilitas
k.      Interaksi Sosial
     Tidak mampu bekerja, tidak mampu menjalankan peran seperti biasanya

2.      Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah:
a.       Penurunan curah jantung
b.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
c.       Perubahan nutrisi
d.      Perubahan pola nafas
e.       Gangguan perfusi jaringan
f.       Intoleransi aktivitas
g.      Kurang pengetahuan tentang tindakan medis
h.      Resiko tinggi terjadinya infeksi

3.      Intervensi

a.       Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
1)      Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
2)      Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)
3)      Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
     R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
4)      Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
     R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia

b.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)
Tujuan:
Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
1)      Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital
2)      Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
3)      Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
4)      Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output

c.       Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan:
Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil
Intervensi:
1)      Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
2)      Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi
3)      Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
4)      Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
5)      Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan
d.      Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik
Tujuan:
Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
1)      Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
2)      Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
3)      Atur posisi senyaman mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
4)      Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia

e.       Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan:
Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :
1)      Mempertahankan kulit utuh
2)      Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
1)      Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.
2)      Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
3)      Inspeksi area tergantung terhadap udem
R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek
4)      Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia
5)      Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit
6)      Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit
7)      Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera
8)      Anjurkan memakai pakaian katun longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit

f.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
Tujuan:
Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
1)      Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
2)      Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
3)      Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
4)      Pertahankan status nutrisi yang adekuat

g.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan medis (hemodialisa) b.d salah interpretasi informasi.
1)      Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.
2)      Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).
3)      Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.
4)      Anjurkan keluarga untuk memberikan support system.
5)      Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes.














BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan

Berdasarkan beberapa definisi mengenai osigenasi maka dapat dirumuskan gangguan pada pasien dengan pemenuhan kebutuhan oksigenasi harus dilakukan tindakan secara lebih  intensif.

B.   Saran

ü  Persiapan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan tindakan asuhan keperawatan
ü  Bagi mahasiswa diharapkan bisa melaksakan tindakan asuhan keperawatan sesuai prosedur yang ada.





DAFTAR PUSTAKA


Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC









Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Your comment here

Last Detik News

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Satya Excel Site - ساتيا ممتاز - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger